Langsung ke konten utama

Melihatmu




Wahai dirimu, pria tak dikenal

 

Di kesekian perjalananku

Di kesekian pertemuanku

Di kesekian pijakanku

 

Melihatmu dari letak yang tak terlihat

Melihatmu dari letak yang tak pernah kau jamah

Melihatmu dari letak yang tak kau anggap

Melihatmu dari letak yang begitu jauh

Melihatmu dari jarak terbaik yang kubisa

Melihatmu dari berbagai kemungkinan dan kebetulan

Melihatmu dengan kedipan mata yang begitu cepat 

Melihatmu dengan ujung mataku yang sendu

    

 

Kembali kuciptakan berbagai kebetulan

Mencoba menjumpai beberapa skenario yang mungkin terjadi

dan menyiapkan waktu terbaik untuk bertemu denganmu

 

Yang bisa kulakukan hanya

 

Melihatmu,

Menyaksikan perasaan ini lahir

Merasakan setiap detaknya

Memvalidasi keberadaan perasaan ini

dan merayakannya sendirian

           

           Sampai jumpa lagi di ketidak sengajaan berikutnya

 

Pare, 9 Februari 2024 


 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Merayakan Kegagalan

Kata gagal sudah tidak asing di telinga kita. Sebuah kata yang sangat dihindari dan ditakuti keberadaannya. Berbagai kata yang sejenis mungkin digunakan untuk menutupi kata gagal itu sendiri. Bagaimana tidak, mengakuinya saja terkadang membuat seseorang merasa kalah dan lemah. Merasa jatuh dan tidak mampu berdiri lagi. Padahal gagal dengan menyerah merupakan dua kata dengan makna yang berbeda. Hari ini aku merayakan kegagalanku. Ya, kini aku merayakannya, dengan sedikit suka cita dan  penuh kekecewaan. Wajar bukan? Beberapa hari lalu aku mendengar podcast Rintik Sedu yang berjudul “sekotak roti dan kegagalannya”. Setelah mendengar itu aku sadar, bahwa kita sudah gagal, namun tidak berani mengakuinya. Bahkan seorang tokoh publik pun pernah gagal, apalagi aku yang baru memulai perjalanan. Biar kuceritakan terlebih dahulu kegagalan yang baru saja kualami. Tepat 11 hari yang lalu, aku gagal mewujudkan rencanaku untuk wisuda bulan November besok. Jangan tanya bagaimana rasa kecewaku. Ha...

Kepergian

Beberapa hal harus pergi lebih cepat Menyisakan kesedihan Menyisakan kesesakan Menyisakan kepedihan Menyisakan helaan napas yang begitu panjang Bahkan Di sisa terakhir bulan ini Kebahagiaan masih menepi, tak mau hinggap Jatuh, bersama langit Kata-kata itu telah habis Seiring jalannya waktu yang mau berhenti sejenak Beberapa hal Di pilih untuk pergi lebih dulu