Langsung ke konten utama

Bulir Air yang Berkelana


Bulir air yang berkelana

Bulir air itu kembali berkelana

Berawal dari pertanyaan rumit di kepala

Kemudian tak kuat menahan rasa perihnya

Akhirnya memilih keluar menyusuri tepi kelopak mata

Mengitari ruas pipi

Merangkak di sela-sela rambut

Lalu jatuh meresap di atas sarung bantal usang

 

Semua  tak mau kalah mencari peran

Malam mengajukan diri menjadi saksi

Langit kamar merekam bukti

Gelap kamar lamat-lamat ikut mengamati   

Bahkan rintik hujan di jendala turut ingin menemani

Hingga isi kepala menertawakan diri

 

Malam semakin sunyi

Entah menit keberapa

Layar persegi empat itu berbunyi

Mata tak kuasa menahan untuk tak melihat

Menunjukkan deretan angka bulat tak bersudut

Namun yang diharapkan tak lagi muncul

Kabar darinya resmi tak terkirim

Sejak malam itu…..

 

Ah, aku semakin benci dengan harapan

Termasuk berharap kepadamu

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Merayakan Kegagalan

Kata gagal sudah tidak asing di telinga kita. Sebuah kata yang sangat dihindari dan ditakuti keberadaannya. Berbagai kata yang sejenis mungkin digunakan untuk menutupi kata gagal itu sendiri. Bagaimana tidak, mengakuinya saja terkadang membuat seseorang merasa kalah dan lemah. Merasa jatuh dan tidak mampu berdiri lagi. Padahal gagal dengan menyerah merupakan dua kata dengan makna yang berbeda. Hari ini aku merayakan kegagalanku. Ya, kini aku merayakannya, dengan sedikit suka cita dan  penuh kekecewaan. Wajar bukan? Beberapa hari lalu aku mendengar podcast Rintik Sedu yang berjudul “sekotak roti dan kegagalannya”. Setelah mendengar itu aku sadar, bahwa kita sudah gagal, namun tidak berani mengakuinya. Bahkan seorang tokoh publik pun pernah gagal, apalagi aku yang baru memulai perjalanan. Biar kuceritakan terlebih dahulu kegagalan yang baru saja kualami. Tepat 11 hari yang lalu, aku gagal mewujudkan rencanaku untuk wisuda bulan November besok. Jangan tanya bagaimana rasa kecewaku. Ha...

Melihatmu

Wahai dirimu, pria tak dikenal   Di kesekian perjalananku Di kesekian pertemuanku Di kesekian pijakanku   Melihatmu dari letak yang tak terlihat Melihatmu dari letak yang tak pernah kau jamah Melihatmu dari letak yang tak kau anggap Melihatmu dari letak yang begitu jauh Melihatmu dari jarak terbaik yang kubisa Melihatmu dari berbagai kemungkinan dan kebetulan Melihatmu dengan kedipan mata yang begitu cepat  Melihatmu dengan ujung mataku yang sendu        Kembali kuciptakan berbagai kebetulan Mencoba menjumpai beberapa skenario yang mungkin terjadi dan menyiapkan waktu terbaik untuk bertemu denganmu   Yang bisa kulakukan hanya   Melihatmu, Menyaksikan perasaan ini lahir Merasakan setiap detaknya Memvalidasi keberadaan perasaan ini dan merayakannya sendirian                            Sampai jumpa lagi di keti...

Kepergian

Beberapa hal harus pergi lebih cepat Menyisakan kesedihan Menyisakan kesesakan Menyisakan kepedihan Menyisakan helaan napas yang begitu panjang Bahkan Di sisa terakhir bulan ini Kebahagiaan masih menepi, tak mau hinggap Jatuh, bersama langit Kata-kata itu telah habis Seiring jalannya waktu yang mau berhenti sejenak Beberapa hal Di pilih untuk pergi lebih dulu