Bulir air yang berkelana
Bulir air itu kembali berkelana
Berawal dari pertanyaan rumit di kepala
Kemudian tak kuat menahan rasa perihnya
Akhirnya memilih keluar menyusuri tepi kelopak mata
Mengitari ruas pipi
Merangkak di sela-sela rambut
Lalu jatuh meresap di atas sarung bantal usang
Semua tak mau kalah mencari peran
Malam mengajukan diri menjadi saksi
Langit kamar merekam bukti
Gelap kamar lamat-lamat ikut mengamati
Bahkan rintik hujan di jendala turut ingin menemani
Hingga isi kepala menertawakan diri
Malam semakin sunyi
Entah menit keberapa
Layar persegi empat itu berbunyi
Mata tak kuasa menahan untuk tak melihat
Menunjukkan deretan angka bulat tak bersudut
Namun yang diharapkan tak lagi muncul
Kabar darinya resmi tak terkirim
Sejak malam itu…..
Ah, aku semakin benci dengan harapan
Termasuk berharap kepadamu

Komentar
Posting Komentar