Langsung ke konten utama

Aku, Kamu dan Sebait Puisi



Sebait puisi kutujukan untukmu 

Meski tahu tak akan pernah tersampaikan padamu


Aku

Aku hanyalah manusia kerdil tak tahu diri

Aku adalah kumpulan ego yang tak mau sendiri 

Dan aku adalah raga yang tak mau pisah dari nadimu


Kamu

Kamu adalah rindu yang kutemukan di ruang lebar tak berbentuk bernama ekspektasi 

Kamu adalah diksi bermakna paling unik yang pernah kutemui 

Dan kamu adalah bait-bait malam yang dibalut penuh rindu 

 

Aku dan kamu Sebuah buku dengan halaman terpisah

Sebuah angan belaka tanpa sebuah kisah

Aku dan kamu adalah dua manusia berbeda dengan perasaan yang tak pernah sama

 

Selamanya Aku dan kamu tak akan pernah menemukan kata kita 

Hatiku jatuh padamu Namun hatimu tak jatuh padaku

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Merayakan Kegagalan

Kata gagal sudah tidak asing di telinga kita. Sebuah kata yang sangat dihindari dan ditakuti keberadaannya. Berbagai kata yang sejenis mungkin digunakan untuk menutupi kata gagal itu sendiri. Bagaimana tidak, mengakuinya saja terkadang membuat seseorang merasa kalah dan lemah. Merasa jatuh dan tidak mampu berdiri lagi. Padahal gagal dengan menyerah merupakan dua kata dengan makna yang berbeda. Hari ini aku merayakan kegagalanku. Ya, kini aku merayakannya, dengan sedikit suka cita dan  penuh kekecewaan. Wajar bukan? Beberapa hari lalu aku mendengar podcast Rintik Sedu yang berjudul “sekotak roti dan kegagalannya”. Setelah mendengar itu aku sadar, bahwa kita sudah gagal, namun tidak berani mengakuinya. Bahkan seorang tokoh publik pun pernah gagal, apalagi aku yang baru memulai perjalanan. Biar kuceritakan terlebih dahulu kegagalan yang baru saja kualami. Tepat 11 hari yang lalu, aku gagal mewujudkan rencanaku untuk wisuda bulan November besok. Jangan tanya bagaimana rasa kecewaku. Ha...

Melihatmu

Wahai dirimu, pria tak dikenal   Di kesekian perjalananku Di kesekian pertemuanku Di kesekian pijakanku   Melihatmu dari letak yang tak terlihat Melihatmu dari letak yang tak pernah kau jamah Melihatmu dari letak yang tak kau anggap Melihatmu dari letak yang begitu jauh Melihatmu dari jarak terbaik yang kubisa Melihatmu dari berbagai kemungkinan dan kebetulan Melihatmu dengan kedipan mata yang begitu cepat  Melihatmu dengan ujung mataku yang sendu        Kembali kuciptakan berbagai kebetulan Mencoba menjumpai beberapa skenario yang mungkin terjadi dan menyiapkan waktu terbaik untuk bertemu denganmu   Yang bisa kulakukan hanya   Melihatmu, Menyaksikan perasaan ini lahir Merasakan setiap detaknya Memvalidasi keberadaan perasaan ini dan merayakannya sendirian                            Sampai jumpa lagi di keti...

Kepergian

Beberapa hal harus pergi lebih cepat Menyisakan kesedihan Menyisakan kesesakan Menyisakan kepedihan Menyisakan helaan napas yang begitu panjang Bahkan Di sisa terakhir bulan ini Kebahagiaan masih menepi, tak mau hinggap Jatuh, bersama langit Kata-kata itu telah habis Seiring jalannya waktu yang mau berhenti sejenak Beberapa hal Di pilih untuk pergi lebih dulu