Langsung ke konten utama

Sepuluh Hari Sebelum Agustus Berakhir



Hari ini tepat tanggal 21 Agustus 2023, sepuluh hari sebelum Agustus berakhir. Rasanya masih tak percaya delapan bulan berlalu begitu saja. Kalau boleh minta waktu berhenti sebentar saja. Biarkan beberapa keinginanku terpenuhi kemudian lanjut berjalan kembali. Tapi bukan hidup namanya jika kehidupan berjalan sesuai keinginan. Ada satu rencana yang awalnya sempat aku kira gagal terjadi namun ternyata bisa kuusahakan. Pada paruh pertama Agustus rencana ini cukup terhambat. Namun di pertengahan Agustus tuhan memberikan kelancaran. Rasanya tidak percaya aku sampai di titik itu. Namun sekarang sudah masuk minggu terakhir Agustus, dan rencana itu belum berjalan hingga saat ini. Beberapa teman yang memiliki nasib sama denganku sudah mulai pasrah. Baru kali ini juga aku menangisi sesuatu, yang bahkan hal tersebut tidak bisa hilang dari kepalaku meski sedetik. Kalau bisa  minta keajaiban, aku pasti sudah meminta sejak kemarin. Ya, mau kutangisi sampai kapanpun, mau marah sampai manapun, mau bersikeras sampai kapanpun, semuanya di luar kendaliku. Lagi-lagi ini yang namanya hidup. Tidak seru rasanya jika keinginan kita berjalan sesuai rencana, akan ada bumbu di pertengahan prosesnya. Aku tidak menghindari emosiku saat ini, mulai dari marah, kesal, sedih, iri, dan berbagai emosi yang campur aduk di dalamnya. Bohong rasanya jika aku tak menangisi hal ini. cengeng memang, tapi biarlah. Setelah mataku sembab menangis seharian di kamar, kuputuskan keluar dan menulis ini. Jahat rasanya jika aku menyiksa kepalaku dengan memendam semua ini. Saat ini kupasrahkan beberapa hal di luar kuasaku pada tuhan, berharap ada setitik harapan yang datang di detik terakhir bulan ini. good job for me, you can do it, but there are some things you can’t control.


 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Merayakan Kegagalan

Kata gagal sudah tidak asing di telinga kita. Sebuah kata yang sangat dihindari dan ditakuti keberadaannya. Berbagai kata yang sejenis mungkin digunakan untuk menutupi kata gagal itu sendiri. Bagaimana tidak, mengakuinya saja terkadang membuat seseorang merasa kalah dan lemah. Merasa jatuh dan tidak mampu berdiri lagi. Padahal gagal dengan menyerah merupakan dua kata dengan makna yang berbeda. Hari ini aku merayakan kegagalanku. Ya, kini aku merayakannya, dengan sedikit suka cita dan  penuh kekecewaan. Wajar bukan? Beberapa hari lalu aku mendengar podcast Rintik Sedu yang berjudul “sekotak roti dan kegagalannya”. Setelah mendengar itu aku sadar, bahwa kita sudah gagal, namun tidak berani mengakuinya. Bahkan seorang tokoh publik pun pernah gagal, apalagi aku yang baru memulai perjalanan. Biar kuceritakan terlebih dahulu kegagalan yang baru saja kualami. Tepat 11 hari yang lalu, aku gagal mewujudkan rencanaku untuk wisuda bulan November besok. Jangan tanya bagaimana rasa kecewaku. Ha...

Melihatmu

Wahai dirimu, pria tak dikenal   Di kesekian perjalananku Di kesekian pertemuanku Di kesekian pijakanku   Melihatmu dari letak yang tak terlihat Melihatmu dari letak yang tak pernah kau jamah Melihatmu dari letak yang tak kau anggap Melihatmu dari letak yang begitu jauh Melihatmu dari jarak terbaik yang kubisa Melihatmu dari berbagai kemungkinan dan kebetulan Melihatmu dengan kedipan mata yang begitu cepat  Melihatmu dengan ujung mataku yang sendu        Kembali kuciptakan berbagai kebetulan Mencoba menjumpai beberapa skenario yang mungkin terjadi dan menyiapkan waktu terbaik untuk bertemu denganmu   Yang bisa kulakukan hanya   Melihatmu, Menyaksikan perasaan ini lahir Merasakan setiap detaknya Memvalidasi keberadaan perasaan ini dan merayakannya sendirian                            Sampai jumpa lagi di keti...

Kepergian

Beberapa hal harus pergi lebih cepat Menyisakan kesedihan Menyisakan kesesakan Menyisakan kepedihan Menyisakan helaan napas yang begitu panjang Bahkan Di sisa terakhir bulan ini Kebahagiaan masih menepi, tak mau hinggap Jatuh, bersama langit Kata-kata itu telah habis Seiring jalannya waktu yang mau berhenti sejenak Beberapa hal Di pilih untuk pergi lebih dulu