Wahai dirimu, pria tak dikenal Di kesekian perjalananku Di kesekian pertemuanku Di kesekian pijakanku Melihatmu dari letak yang tak terlihat Melihatmu dari letak yang tak pernah kau jamah Melihatmu dari letak yang tak kau anggap Melihatmu dari letak yang begitu jauh Melihatmu dari jarak terbaik yang kubisa Melihatmu dari berbagai kemungkinan dan kebetulan Melihatmu dengan kedipan mata yang begitu cepat Melihatmu dengan ujung mataku yang sendu Kembali kuciptakan berbagai kebetulan Mencoba menjumpai beberapa skenario yang mungkin terjadi dan menyiapkan waktu terbaik untuk bertemu denganmu Yang bisa kulakukan hanya Melihatmu, Menyaksikan perasaan ini lahir Merasakan setiap detaknya Memvalidasi keberadaan perasaan ini dan merayakannya sendirian Sampai jumpa lagi di keti...
Kata gagal sudah tidak asing di telinga kita. Sebuah kata yang sangat dihindari dan ditakuti keberadaannya. Berbagai kata yang sejenis mungkin digunakan untuk menutupi kata gagal itu sendiri. Bagaimana tidak, mengakuinya saja terkadang membuat seseorang merasa kalah dan lemah. Merasa jatuh dan tidak mampu berdiri lagi. Padahal gagal dengan menyerah merupakan dua kata dengan makna yang berbeda. Hari ini aku merayakan kegagalanku. Ya, kini aku merayakannya, dengan sedikit suka cita dan penuh kekecewaan. Wajar bukan? Beberapa hari lalu aku mendengar podcast Rintik Sedu yang berjudul “sekotak roti dan kegagalannya”. Setelah mendengar itu aku sadar, bahwa kita sudah gagal, namun tidak berani mengakuinya. Bahkan seorang tokoh publik pun pernah gagal, apalagi aku yang baru memulai perjalanan. Biar kuceritakan terlebih dahulu kegagalan yang baru saja kualami. Tepat 11 hari yang lalu, aku gagal mewujudkan rencanaku untuk wisuda bulan November besok. Jangan tanya bagaimana rasa kecewaku. Ha...